Rabu, 23 Februari 2011

kerajaan si pare-pare


Hiranan – cipt. Taralamsyah Saragih

Februari 14, 2011 oleh Omtatok Muharius

Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius
Photo tahun 1949, dari kiri - kanan: Rosmalina (putri dari Hoofd Penghulu Bandar Tinggi) - Pangulu Amat, Seorang Bangsawan Melayu yang di-Damanik-kan oleh Tuan Dista Bulan dalam acara adat), Tengku Syariah & Tengku Hindun (putri dari Partuanon Tanjung Kasau - clan Damanik). Berphoto di Tebingtinggi, setelah mengungsi akibat revolusi sosial tahun 1946, yang juga berimbas bagi Hoofd Penghulu Bandar Tinggi dan Bangsawan Tanjung Kasau. Tanjung Kasau di tahun 1888, oleh Pemerintahan Kolonial dikeluarkan dari kultur pemerintahan Simalungun. Raja Tanjung Kasau dijatuhkan Belanda di tahun 1900 digantikan oleh adiknya Raja Maharudin. Dengan Beslit Gabenor-General tahun 1920, Tanjung Kasau disatukan dengan beberapa daerah Batubara, seperti daerah Tanjung, Sipare-pare dan Pagurawan, lalu dijadikan satu kerajaan bernama Inderapura di mana diangkat oleh Belanda salah seorang pegawainya, seorang bangsawan bernama Tengku Abdullah Seman alias Tengku Busu (ia yang menandatangani Korte Verklaring 21.10.1920), sehingga Tanjung Kasau yang Simalungun lebih terkukuh menjadi Melayu.*(sumber: Muhar Omtatok)
Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius
Stempel Kerajaan - Dolog Silou. Stempel Kerjaan Dolog Silou. Merupakan Stempel yang diterima dari Sultan Aceh. Karena diterima dari Sultan Aceh, maka menggunakan Huruf Gundul (Aksara Melayu yang berakar dari Aksara Arab), huruf yang digunakan resmi di Aceh saat itu. Ketika kerajaan Aceh menjadi besar sejak abad ke-16, muncul gagasan unifikasi wilayah Sumatera Timur di bawah lingkup Aceh. Kerajaan Siantar, Tanah Jawa, Dolog Silou dan Panei; sebagai negeri-negeri yang berdaulat dan merdeka, dimasukkan dalam konfederasi Aceh.Hal ini tentu saja memunculkan ikatan positif antara negeri-negeri di Sumatera Timur dengan Kesultanan Aceh.Karenanya, untuk Stempel Kerajaan, sangat wajar jika Kerajaan Dolog Silau mengambil dari Aceh. Ditambah lagi, saat itu tekhnologi pembuatan stempel ada di Aceh (kini wilayah Lhokseumawe).

Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius
Surat Berstempel Raja Panei tahun 1904
Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius

Upacara Maranggir Tuan Anggi Raya (Tuan Pusia Saragih Garingging) di Hutadolog Merek Raya (Landschap Raya). Di depan (margotong dan mardormani) adalah Tuan Pusia Saragih Garingging (Tuan Anggi Raya), Tuan Anggi Raya ini yang dapat diangkat menjadi raja di Raya setelah putera mahkota yang dilahirkan Puangbolon, sebab mereka sama-sama dilahirkan oleh Panakboru boru Purba Sidasuha (Tuan Pusia sendiri) adalah dilahirkan puteri Guru Raya. Di depan itu (saya masih kurang yakin) apakah itu Guru Raya? Demikian Juandaha Raya menberi keterangan.
Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius
Rumah Bolon Raja Panei di Pamatang Panei. Sekarang rumah bolon ini sudah tidak ada lagi sebab sudah habis dibakar oleh BHL pada saat Revolusi Sosial 1946. Di rumah ini dahulu arsip dan pustaha laklak Panei berada. Pustaha Panei Bolon yang merupakan pusaka Kerajaan Silou yang dibawa ompung Tuhan Suha Bolag dulu dan oleh karena kesaktiannya menjadi raja di Panei. sayangnya, Pustaha Panei Bolon ini musnah pula terbakar pada waktu Agresi Belanda 1946, di mana rumah Borahim Guru Raya pada waktu itu di Pamatang Raya musnah dilalap api. Dalam gambar ini suasana rumah bolon adalah ketika Puang Bolon Panei bou Damanik meninggal dunia, sekitar tahun 1933? Begitu Juandaha Raya Purba menjelaskan.

Sungkit – Tumbuhan Unik Berkhasiat Obat

Desember 25, 2010 oleh Omtatok Muharius
oleh: M Muhar Omtatok
Alkisah dari turi-turian Bah Tobu, sebuah sungai yang mengalir di wilayah Simalungun menuju pesisir timur. Tiga orang marsanina melakukan perjalanan menuju Sinumbah (tempat keramat) guna mengikuti ritual Pahutahon, yang kelak berujung di tempat yang kini disebut Keramat Kubah.
Dalam turi-turian tersebut, dikisahkan ketika di tengah perjalanan ketiga bersaudara tersebut berhenti di tepi sebuah sungai yang banyak ditumbuhi Pohon Sungkit (diucapkan: ‘Sukkit). Karena perjalanan dari sekitar pesisir  yang cukup meletihkan dan membuat perut lapar, mereka mencoba mencari bahan panganan yang ada disekitar tepi sungai tersebut.
Namun sayang, mereka tidak menemukan makanan yang bisa mengganjal perut. Seketika mereka memperhatikan pohon sungkit yang mirip cikal kelapa, berbunga kuning dan terdapat buah-buah kecil di dasar batang pohon jenis palem tersebut.
Tanpa berfikir panjang, mereka segera memetik buah-buah pohon sungkit disekitar sungai itu, sambil memakan buah yang berasa seperti papermint tersebut. Meski mereka belum mengenal tumbuhan sungkit sebelumnya, namun dikarenakan perut yang semakin lapar, mereka yakin bahwa sungkit bisa mengganjal perut untuk bisa menambah tenaga karena trio bersaudara itu masih harus melanjutkan pengembaraan keilmuan lagi.
Setelah merasa cukup menyantap buah-buah dari pohon sungkit tersebut, mereka segera menuju sungai untuk minum. Namun sebuah kejadian aneh terjadi, mereka merasakan air yang diteguk dari aliran sungai tersebut, terasa manis. Tidak seperti sungai-sungai yang lain, air yang terasa tawar.
Karena menikmati air yang terasa manis tanpa dibubuhi gula tersebut, mereka mengatakan bahwa ini adalah ‘Bah Tobu’ – ‘Sungai Manis’. Entah penasaran atau memang kehausan, salah seorang dari tiga bersaudara itu meminum air sungai yang manis tersebut dengan sangat berlebihan, dan dikisahkan ia lemas dan tiada lagi sanggup melanjutkan perjalanan. Hingga perjalanan dilanjutkan oleh dua bersaudara saja hingga ke sebuah tempat ‘sinumbah’ yang kini disebut Keramat Kubah.


Tumbuhan Sungkit
Jika mengingat turi-turian diatas, dapat kita perkirakan bahwa tanaman sungkin sudah lama dikenal bagi masyarakat Simalungun. Dalam turi-turian tentang air Bah Tobu yang terasa manis, sebenarnya bukanlah sebuah kejadian aneh jika dikaji dari kandungan buah sungkit tersebut.
Buah Sungkit bisa mengubah rasa menjadi manis karena mengandung protein yang disebut Curculin. Protein ini bisa tahan di mulut sampai setengah jam sebelum akhirnya rasa manisnya menghilang. Ekstrak dari buah Sungkit derajat kemanisannya setara dengan 350.000 sukrosa dan memiliki kemampuan dalam hal modifikasi rasa. Curculin bisa mengubah rasa tawar dan asam menjadi manis.
Sungkit  merupakan tanaman yang menyukai keteduhan atau kondisi tanpa sinar matahari langsung, dengan kandungan air yang banyak. Bibit sungkit yang saya bawa dan saya tanam di kediaman saya di Medan, dari lahan liar yang banyak ditumbuhi rotan di wilayah Marubun Kec. Sipispis, nyatanya sungkit tumbuh sangat lambat dan daun yang tertinggal kecil.
Sungkit lebih menyukai tanah yang subur, kaya akan bahan organik. Sungkit terdapat di hutan primer dan sekunder dengan ketinggian mencapai 2000 m dan di hutan hujan dengan ketinggian mencapai 1100 m.
Perbanyakan sungkit  dengan tunas batang bawah disekitar akar atau dengan pembiakkan biji yang masak dan segar. Sungkit menghasilkan banyak tunas batang bawah disekitar akar , yang dapat dipindah dan mudah tumbuh menjadi tanaman baru.
Pada masyarakat Simalungun, tumbuhan sungkit banyak dipergunakan untuk berbagai keperluan, misalnya dibuat menjadi jaring ikan, tali, serta benang.  Di samping itu, daun sungkit dipergunakan juga untuk pembungus, seperti membungkus kue saat dikukus, garam maupun daging.
Buah sungkit gemuk dan lancip seperti kuntum melati. Ukurannya sedikit lebih besar dari biji kacang tanah. Kulit buah tampak berbulu-bulu halus seperti beludru, berwarna putih keabuan. Daging buahnya putih. Biji-biji hitam di dalam buah membuat daging buah menjadi tampak berbintik-bintik.
Meskipun manisnya tidak terlalu ekstrim, tetapi buahnya menghasilkan rasa sangat manis setelahnya ketika minum setelah memakan buah ini. Ini juga terjadi ketika substansi asam dirasakan setelah memakan buah tersebut, sehingga masyarakat Simalungun dulu memakan buah ini untuk memberikan rasa manis ke makanan asam.
Tumbuhan sungkit memiliki batang yang pendek dengan daun sejajar, tumbuh berumpun, bunga bermahkota kuning yang setiap bunga memiliki enam kelopak, disana pula buahnya ditemukan bergerombol putih dengan bijinya yang hitam. Merupakan herba tahunan dengan tinggi hingga 1 m, dengan akar rimpang tebal.

Tumbuhan Sungkit Sebagai Tambar
Daun, ujung batang dan akar sungkit digunakan untuk mengobati demam. Rebusan bunga dan akar sebagai obat sakit perut dan diuretic yaitu yang bekerja pada ginjal untuk meningkatkan ekskresi air dan natrium klorida, sementara itu rebusan akar rimpangnya digunakan untuk mengobati pengeluaran darah haid yang terlalu banyak dan juga yang berhubungan dengan kram selama haid dan digunakan pula sebagai tambar untuk sejenis peradangan pada kedua mata . Buah sungkit bagi masyarakat Simalungun dahulu, juga dipercaya bisa mengurangi panas dalam dan sakit kepala.Tumbuhan sungkit dalam dunia hadatuon Simalungun, dipergunakan juga sebagai salah satu bahan pengobatan mistis.
Masih dalam tradisi kesimalungunan, Daun sungkit digunakan sebagai bahan campuran mandi bagi wanita yang baru melahirkan. Disisi lain, karena buah sungkit memiliki kandungan protein curculin yang bisa menimbulkan efek manis, menurut saya ini cocok bagi penderita diabetus mellitus sebagai pengganti gula.
Masih dari khazanah partambaran Simalungun, Bahagian akarnya berfungsi untuk mengobati sakit ginjal, menguatkan fungsi seks, dan sebagai bahan kumur. Beberapa keluhan pembengkakan juga mempergunakan tumbuhan sungkit ini.*muhar omtatok*


Panganan Simeloengoen

November 29, 2010 oleh Omtatok Muharius


Dayok Nabinatur
Dayok Nabinatur


Panglima Bungkuk

November 29, 2010 oleh Omtatok Muharius
Dalam bukunya Ticheman dan P Voorhoeve menerbitkan buku hasil penelitiannya tentang patung-patung batu dan tempat-tempat bersejarah di Simalungun, buku itu berjudul Steenplastiek in Simeloengoen ditebitkan di Medan tahun 1937. Dalam buku itu terdapat foto Patung Panglima Bungkuk dari Tanoh Jawa.  Menurut cerita patung ini dibuat untuk memperingati dan menghormati pejuang gagah berani leluhur raja Tanah Jawa yang konon berasal dari panglima Kerajaan Sriwijaya di Jambi yang berhasil mengalahkan pasukan Singosari di daerah sekitar Sungai Asahan sampai dia mendirikan Kerajaan Tanah Jawa di daerah Simalungun sekarang ini. Bila dihubungkan dengan tarikh sejarah Indonesia, Singosari dengan ekspedisi Pamalayu datang ke Sumatera sekitar abad XIII. Mungkinkah patung ini sudah ada sejak abad XIII? Ayo para sejarawan dan arkeolog pecahkan misteri patung ini! Yang disebelah kanan, Patung Si Djoring dari Pematang Tanoh Jawa

Komunitas Jejak Simalungun menghantarkan Mahdani Sinaga,  Sultan Saragih, Anca Damanik, Rahmanita, Idsa Damanik untuk menyusuri puing-puing Kerajaan Tanoh Jawa di Simalungun. Situs patung Panglima Bungkuk salah satunya.






Raja Raya – Tuan Rondahaim

November 3, 2010 oleh Omtatok Muharius
Raja Raya – Tuan Rondahaim














1 komentar:

  1. keren bang , ijin ambil foto dayok na binaturnya ya bang di saya buat di http://akunt.blogspot.com/

    BalasHapus