SIMALUNGUN SAUHU
Hiranan – cipt. Taralamsyah Saragih
Februari 14, 2011 oleh Omtatok Muharius Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius 

Photo tahun 1949, dari kiri - kanan: Rosmalina (putri dari Hoofd Penghulu Bandar Tinggi) - Pangulu Amat, Seorang Bangsawan Melayu yang di-Damanik-kan oleh Tuan Dista Bulan dalam acara adat), Tengku Syariah & Tengku Hindun (putri dari Partuanon Tanjung Kasau - clan Damanik). Berphoto di Tebingtinggi, setelah mengungsi akibat revolusi sosial tahun 1946, yang juga berimbas bagi Hoofd Penghulu Bandar Tinggi dan Bangsawan Tanjung Kasau. Tanjung Kasau di tahun 1888, oleh Pemerintahan Kolonial dikeluarkan dari kultur pemerintahan Simalungun. Raja Tanjung Kasau dijatuhkan Belanda di tahun 1900 digantikan oleh adiknya Raja Maharudin. Dengan Beslit Gabenor-General tahun 1920, Tanjung Kasau disatukan dengan beberapa daerah Batubara, seperti daerah Tanjung, Sipare-pare dan Pagurawan, lalu dijadikan satu kerajaan bernama Inderapura di mana diangkat oleh Belanda salah seorang pegawainya, seorang bangsawan bernama Tengku Abdullah Seman alias Tengku Busu (ia yang menandatangani Korte Verklaring 21.10.1920), sehingga Tanjung Kasau yang Simalungun lebih terkukuh menjadi Melayu.*(sumber: Muhar Omtatok)
Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius 

Stempel Kerajaan - Dolog Silou. Stempel Kerjaan Dolog Silou. Merupakan Stempel yang diterima dari Sultan Aceh. Karena diterima dari Sultan Aceh, maka menggunakan Huruf Gundul (Aksara Melayu yang berakar dari Aksara Arab), huruf yang digunakan resmi di Aceh saat itu. Ketika kerajaan Aceh menjadi besar sejak abad ke-16, muncul gagasan unifikasi wilayah Sumatera Timur di bawah lingkup Aceh. Kerajaan Siantar, Tanah Jawa, Dolog Silou dan Panei; sebagai negeri-negeri yang berdaulat dan merdeka, dimasukkan dalam konfederasi Aceh.Hal ini tentu saja memunculkan ikatan positif antara negeri-negeri di Sumatera Timur dengan Kesultanan Aceh.Karenanya, untuk Stempel Kerajaan, sangat wajar jika Kerajaan Dolog Silau mengambil dari Aceh. Ditambah lagi, saat itu tekhnologi pembuatan stempel ada di Aceh (kini wilayah Lhokseumawe).
Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius 

Upacara Maranggir Tuan Anggi Raya (Tuan Pusia Saragih Garingging) di Hutadolog Merek Raya (Landschap Raya). Di depan (margotong dan mardormani) adalah Tuan Pusia Saragih Garingging (Tuan Anggi Raya), Tuan Anggi Raya ini yang dapat diangkat menjadi raja di Raya setelah putera mahkota yang dilahirkan Puangbolon, sebab mereka sama-sama dilahirkan oleh Panakboru boru Purba Sidasuha (Tuan Pusia sendiri) adalah dilahirkan puteri Guru Raya. Di depan itu (saya masih kurang yakin) apakah itu Guru Raya? Demikian Juandaha Raya menberi keterangan.
Januari 7, 2011 oleh Omtatok Muharius 

Rumah Bolon Raja Panei di Pamatang Panei. Sekarang rumah bolon ini sudah tidak ada lagi sebab sudah habis dibakar oleh BHL pada saat Revolusi Sosial 1946. Di rumah ini dahulu arsip dan pustaha laklak Panei berada. Pustaha Panei Bolon yang merupakan pusaka Kerajaan Silou yang dibawa ompung Tuhan Suha Bolag dulu dan oleh karena kesaktiannya menjadi raja di Panei. sayangnya, Pustaha Panei Bolon ini musnah pula terbakar pada waktu Agresi Belanda 1946, di mana rumah Borahim Guru Raya pada waktu itu di Pamatang Raya musnah dilalap api. Dalam gambar ini suasana rumah bolon adalah ketika Puang Bolon Panei bou Damanik meninggal dunia, sekitar tahun 1933? Begitu Juandaha Raya Purba menjelaskan.
Panganan Simeloengoen
November 29, 2010 oleh Omtatok MuhariusRaja Raya – Tuan Rondahaim
November 3, 2010 oleh Omtatok Muharius
































keren bang , ijin ambil foto dayok na binaturnya ya bang di saya buat di http://akunt.blogspot.com/
BalasHapus